NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 1

 NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 1



Sekitar enam puluh ribu tahun yang lalu. Pagi hari waktu lokal. Di dalam kokpit pesawat lintas ruang dan waktu yang berbentuk seperti telur pipih menyerupai gong.


“Sial! Sial!” teriak seorang perempuan yang ada di dalamnya dengan panik.


Pesawat tersebut oleng dan mengarah ke Sungai Mahakam dan tercebur ke dalamnya dengan keras.


Sepasang suami istri yang melihat hal tersebut terkesima dengan kejadian tersebut. 


Tak berapa lama mereka melihat di area di mana pesawat itu tenggelam terlihat buih-buih air yang bermunculan awalnya perlahan kemudian semakin kencang dan deras lalu pesawat berbentuk seperti telur pipih atau gong tersebut mulai muncul dan mengambang di Sungai Mahakam.


Kemudian muncul perlahan dari dalamnya seorang gadis yang cantik dengan pakaian aneh.


Sepasang suami istri tersebut tertegun, tidak beranjak, sampai gadis tersebut bergerak turun dari gong yang aneh tersebut di tepi sungai, dan anehnya, gong tersebut mendadak mengecil, diambilnya gong tersebut oleh si gadis dan diletakkanya di dalam sakunya.


Si gadis kemudian mendekati sepasang suami istri yang sudah terlihat sebagai penduduk yang berusia sangat senior sekitar delapan puluh tahunan.


“Eh… saya… di mana area ini? Saya Karang Melenu” tanyanya kepada kedua orang tersebut.


Kedua orang tersebut tampak tidak mengerti. 


“Oh… tunggu,” kata Karang Melenu, kemudian seperti menyentuh sesuatu di tangannya dan berkata, “Skan bahasa apa yang digunakan oleh penduduk area sini, dan pastikan apa yang kukatakan otomatis tertranslasi ke dalam bahasa lokal penduduk sini,” ucap  Karang Melenu dengan bahasanya sendiri.


“Selesai, kau akan dapat berbicara dan mengerti bahasa lokal penduduk sini,” ucap suara muncul di telinga Karang Melenu.


“Sempurna!” Puji Karang Melenu,”Hem… mari kita ulangi lagi.”


“Selamat pagi, saya berada di mana tepatnya?” Tanya Karang Melenu kepada kedua orang tersebut.


“Oh… kupikir kau tidak dapat berbicara dalam bahasa lokal di sini, ini Sungai Mahakam, kau berada di wilayah Suku Tunjung…” jelas si pria tersebut.


“Eh… tepatnya lebih dekat dengan wilayah Benuaq,” tambah si perempuan sembari melihat ke Karang Melenu dengan pandangan terkesima.


“Ya… ya kau dapat bilang ini wilayah bagian dari dua desa, yaitu Tunjung dan Benuaq, kita berada hampir di tengah-tengahnya,” tambah si pria.


“Oh ya… kenapa kau muncul dari dasar Sungai Mahakam? Dan kenapa perahumu yang seperti gong atau telur pipih itu dapat menjadi kecil?” tanya si perempuan.


“Oh… eh… yah… eh… aku bukan berasal dari sini, eh… aku… eh seorang keturunan naga… aku putri naga,” jawab Karang Melenu sekenanya, karena untuk menjelaskan hal yang sebenarnya akan sangat sulit diterima dengan akal bagi kedua orang ini.


Tidak ada maksud untuk berbohong, hanya menjelaskan sesuai dengan pemikiran banyak orang pada umumnya di masa itu.


“Putri Naga pantas kau memiliki kesaktian seperti seorang petara? Siapa namamu Putri?” tanya pria tersebut.


“Namaku Karang Melenu,” jawabnya.


“Karang Melenu, nama yang indah, namaku Babu Jaruma,” perempuan itu menyebutkan namanya.


“Saya Lalong,” pria tersebut ikut menyebutkan namanya.


“Di mana saya dapat menginap malam ini? Adakah penginapan di dekat sini?” Tanya Karang Melenu.



Bersambung...


Comments

Popular Posts