NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 3
NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 3
“Scan area sini, apakah ada peradaban canggih yang sesuai dengan teknologi kita, kuantum organik guna membenahi kerusakan pesawat kuantum organik kita?” perintah suara Karang Melenu kepada komputer kuantum organik yang ada di kepalanya.
”Sejauh ini belum terdeteksi, masih perlu waktu sampai selesai malam nanti,” jawab komputer kuantum organik yang ada di kepalanya, tertera juga di retina matanya menunjukkan waktu tepatnya kapan scan akan selesai.
“Sial, sepertinya untuk sementara waktu, aku terjebak di masa ini,” keluh Karang Melenu lalu duduk dengan kesal di ranjang kamar tersebut dan meletakkan kedua tangannya di kepala.
*
“Putri… ke sini,” Babu Jaruma menggerakkan tangannya ke arah Karang Melenu saat gadis tersebut terlalu jauh dari tempat berkumpul untuk makan siang.
Karang Melenu segera mendekati Babu Jaruma,”Nih… kau harus tahu makanan khas sini, ini namanya juhu singkah, dan ini wadi ada yang dari daging rusa, babi, dan yang aku suka daging bebek.”
Karang Melenu mengangguk-angguk tanda mengerti,”Aku juga suka bebek!”
“Bagus kalau begitu… ini juhu asam urai… terasa segar, serta ikan baong dan lais yang dibakar di dalam batang bambu… cara ini disebut lemang atau pansoh!” jelas Babu Jaruma panjang lebar.
“Oh…,” Karang Melenu mengomentari sebagai tanda baru tahu.
Karang Melenu saat makan siang menjadi perhatian warga sekitar yang ingin tahu seperti apa wujud dari anak seorang raja naga.
Mereka mudah untuk mengetahui yang mana Putri Karang Melenu karena pakaiannya sangat berbeda dengan semua warga yang sedang bergawai dan makan siang di rumah lamin atau rumah radakng[ Rumah panggung yang sangat panjang (Long house) di mana beberapa keluarga menempati satu rumah dan dipimpin oleh seorang sesepuh sebagai ketua atau kepala dari komunitas di dalam rumah tersebut.] tersebut.
Mereka melihat pakaian yang dikenakan Karang Melenu semuanya berwarna putih bersih, baju ketat, celana panjang, dan memakai sejenis sepatu yang tinggi yang juga berwarna putih, mengenakan sarung tangan, dan matanya seperti terkadang ada muncul bintik-bintik cahaya di dalam retina matanya.
Mereka terpesona dengan mata Putri Karang Melenu yang terkadang muncul bintik-bintik seperti sinar-sinar kecil.
“Matamu seperti ada sinar-sinar kecil, apakah itu?” tanya seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahunan dengan penasaran menanyakan kepada Karang Melenu.
“Oh… uh… ini adalah sinar sebagai pertanda saya anak raja naga,” jawab Karang Melenu sekenanya, karena sulit menjelaskan ke mereka.
Mereka tentu tidak perlu tahu bahwa sebenarnya itu adalah teks dan bahkan terkadang gambar diam ataupun video yang ditayangkan di dalam retina matanya untuk berkomunikasi dengan orang lain yang memiliki teknologi yang sama atau sekadar berkomunikasi dengan komputer yang ada di dalam kepalanya.
“Oh… aku ingin seperti itu,” ucap anak tersebut.
“Kalau kau anak raja naga, kau pasti bisa!” timpal seorang anak lelaki remaja sekitar 15 tahunan sembari mengangkat dan menggendong anak tersebut yang tertawa karena digelitik oleh yang menggendongnya.
Karang Melenu tertawa melihat ulah mereka.
“Bagaimana makan siangmu, apakah kau suka?” tanya Apai Lalong sebagai kepala hulu rumah lamin tersebut.
“Oh… saya suka sekali Apai, benar kata Babu Jaruma, daging bebek wadi ini enak sekali,” jawab Karang Melenu.
“Ayo… nambah… nambah…,” Apai Lalong mempersilakan Karang Melenu untuk menambah lagi bebek wadi yang dia suka.
Karang Melenu pun segera melakukannya.
Anak lelaki yang berusia 15 tahun sebelumnya yang menggendong anak kecil mendekati Karang Melenu dan bertanya,”Apa Putri sudah punya rencana kapan akan kembali ke Raja Naga Erau?”
“Eh… belum, memang kenapa?” tanya Karang Melenu.
“Aku ingin ikut ke tempatmu,” jelas anak remaja tersebut.
“Kau sepertinya suka berpetualang?” tanya Karang Melenu.
“Heeeeeee…” anak tersebut ngeset.
Bersambung....
Comments