NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 4

 NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 4



Karang Melenu ikut tersenyum kecut.


“Menurutmu kerajaan ayahku… Raja Naga Erau ada di mana?” tanya Karang Melenu kepada anak remaja tersebut.


“Entahlah… sepertinya sesuai dengan aliran Sungai Mahakam… tinggal mengikutinya sampai ke hulu saja,” jawab anak tersebut menduga.


“Kau tahu nama Raja Naga Erau dari mana?” tanya Karang Melenu. 


“Dari cerita Ama[ Ayah] bahwa Raja Naga Erau adalah naga yang baik pelindung rakyat yang tertindas, aku ingin seperti Raja Naga Erau menjadi pembela orang yang tertindas.” jelas anak remaja tersebut bersemangat.


“Amamu sangat baik memberikan cerita teladan tentang Raja Naga Erau… siapa namamu?” tanya Karang Melenu.


“Namaku Bujakng Kelikng,” jawab remaja pria tersebut.


“Ayo… ayo berkumpul ke sini, kita akan menari bersama…” ajak Babu Jaruma, kemudian memberikan hiasan kepala seperti bandana ke pada Karang Melenu. 


Karang Melenu merunduk agar Babu Jaruma dapat meletakkan hiasan tersebut di kepalanya.


“Ini namanya talingaan atau dapat disebut dengan nama seret,” jelas Babu Jaruma sembari membenarkan letak  hiasan tersebut di kepala Karang Melenu. 


“Bagi aku… karena pria aku mengenakan ketapu silung,” ucap Bujakng Kelikng sembari menunjukkan hiasan kepala yang berhiaskan bulu burung enggang dan beberapa pria yang hadir ada yang menggunakan bulu ayam hutan, manik-manik, kulit, dan kain ulap doyo. 


Babu Jaruma menggandeng Karang Melenu yang diikuti oleh Kelikng di belakangnya.


“Ikuti gerakan tari para perempuan di sini, ini tari Kancet Ledo,” jelas Babu Jaruma sembari memberikan kipas dari bulu ayam hutan.


Karang Melenu mengikuti gerakan tari para perempuan suku Dayak Benuaq tersebut, beberapa gadis lainnya ikut menari dan tertawa saat Karang Melenu keliru mengikuti gerakan mereka, tetapi Karang Melenu malah sengaja melakukan gerakan tari yang menurut mereka aneh tetapi menghibur.


Tak terasa hari mulai merayap sore dan mulai menjelang malam


“Scan selesai,” info terbaru di kepala dan retina mata Karang Melenu.


“Bagus, apakah ada peradaban tersembunyi yang canggih di area sini?” tanya Karang Melenu.


“Tidak ada di sekitar sini, tetapi ada di area yang jauh,” jelas komputer kuantum organik yang ada di kepala Karang Melenu.


“Definisikan jauh tersebut, lokasinya di mana?” tanya Karang Melenu.


“Di area Sungai Niah…” jelas komputer kuantum organik.


“Raja Naga Erau…” gumam Karang Melenu.


“Putri, makan malam sudah siap,” ucap salah satu perempuan mewakili Babu Jaruma.


“Baik, di mana Babu Jaruma?” tanya Karang Melenu.


“Sudah menunggu di ruang makan,” jawab perempuan tersebut.


Karang Melenu segera mengikuti perempuan tersebut ke area makan malam.


“Nama ine siapa?” tanya Karang Melenu.


“Aku Sepunti, ibunya Kelikng,” jawab Sepunti sembari tersenyum.


“Ah… ini dia Putri Karang Melenu,” jelas Apai Lalong saat Karang Melenu muncul di ruang makan malam bersama.


“Kenalkan Ladja…” ucap Apai Lalong kepada Karang Melenu mengenalkan lelaki berumur sekitar 30 tahunan.


“Salam kenal, saya Karang Melenu,” Karang Melenu melakukan sembah hormat kepada Ladja.


“Ladja adalah tamu jauh yang juga kebetulan menginap malam ini di sini,” jelas Apai Lalong.


“Ayo… ayo sile makan dahulu…,” ajak Babu Jaruma.



Bersambung



Comments

Popular Posts