NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 5
NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 5
Mereka pun menikmati makan malam dengan saling bercerita.
“... hingga aku sampai di Sungai Niah…” ucap Ladja.
“Sungai Niah katamu?” Karang Melenu menegaskan.
“Iyaa… Sungai Niah, Sungai kecil di area utara dari sini” jelas Ladja.
“Aku ada tujuan ke sana,” jelas Karang Melenu.
“Ah… aku tahu arahnya, sering kukunjungi,” jelas Ladja mantap.
“Kapan rencananya kau akan ke sana?” tanya Apai Lalong.
“Besok…,” jawab Karang Melenu.
“Bolehkah anakku Kelikng ikut?” tanya Sepunti.
Karang Melenu melihat ke mata Sepunti,”Apa Ine setuju Kelikng berpetualang? Menghadapi potensi bahaya?”
“Sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu, Kelikng banyak berburu menggantikan ayahnya, banyak hal yang dia lihat dan alami, dia ingin mengembara melihat dunia yang luas ini, terutama terinspirasi oleh Raja Naga Erau yang diceritakan ayahnya,” jelas Sepunti.
“Baiklah… dia boleh ikut,” jawab Karang Melenu.
“Aku siap untuk menemanimu ke Sungai Niah, sebab kebetulan arahku juga ke sana,” jelas Ladja.
*
Esok hari. Tampak Rombongan kecil yang dipandu oleh Ladja, terlihat Karang Melenu, dan Kelikng sudah siap berangkat.
Terlihat Karang Melenu dipeluk oleh Babu Jaruma, sembari matanya sembab,”Walau hanya sehari saja, aku merasa aku mengenalmu bertahun-tahun seolah kau adalah anakku yang seharusnya kami miliki selama ini, kembalilah ke sini setelah dari sana, ini adalah rumah barumu!”
“Baik Ine,” jawab Karang Melenu sembari melirik ke Apai Lalong yang juga tersenyum kepadanya.
“Benar, ini adalah rumahmu, kembalilah kapan pun kau suka,” tambah Apai Lalong dengan lirih sembari menepuk dan memegang pundak Karang Melenu.
“Baik Apai, saya pasti akan kembali,” jawab Karang Melenu menghibur, tidak yakin akan kembali atau tidak.
Tampak Karang Melenu canggung menaikki kudanya dan hampir jatuh, dengan cepat Kelikng menahannya.
“Terima kasih,” ucap Karang Melenu kepada Kelikng.
Kelikng membantu Karang Melenu menaikki dan menuntun kuda tersebut secara perlahan kemudian melepaskannya setelah yakin Karang Melenu dapat melanjutkannya sendiri.
Tak berapa lama kemudian rombongan bergerak perlahan dengan menaikki kuda masing-masing.
Setelah melewati batas desa,“Berapa lama perkiraan perjalanan berkuda dari sini ke Sungai Niah?” Tanya Kelikng.
“Pertanyaan yang bagus, tergantung kecepatan kita berkuda, dan juga seberapa lama kita akan menginap di suatu tempat, jadi perkiraan sekitar 20 sampai 30 harian,” jelas Ladja.
“Hm… lumayan juga,” Karang Melenu ikut menimpali.
“Adakah jalur yang lebih cepat?” tanya Karang Melenu.
“Ada, tetapi lebih berbahaya bagi kita dan juga kuda akan semakin sulit dikendalikan karena naik dan turun bukit yang curam, bila itu kita lakukan, mungkin sekitar 15 hari tanpa banyak beristirahat akan sampai di sana,” jelas Ladja.
“Oh… kupikir akan lebih cepat lagi?” Karang Melenu tampak kecewa.
“Ha ha ha… Putri kalau ada ide yang lebih baik dan sebagai putri raja naga tentu punya kesaktian yang mungkin dapat memberi solusi,” ucap Kelikng berharap lebih kepada Karang Melenu.
“Karena kau mengingatkanku… ya… aku punya,” jawab Karang Melenu dengan tersenyum.
Karang Melenu menghentikan kudanya dan turun. Kemudian merogoh sakunya, dikeluarkannya sejenis pintu mini dan diletakkannya di tanah.
Mendadak pintu tersebut membesar dan kemudian menyentuh beberapa tombol.
OOOOOOOOOOOOOM!
Bersambung
Comments