NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 2
NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 2
“Di desa Melanti ini tidak ada penginapan, penginapan sangat jauh dari sini, sekitar 14 hari perjalanan naik kuda,” jelas Lalong.
“Sebaiknya menginap di rumah kami untuk sementara ini,” undang Babu Jaruma.
“Terima kasih! Saya sangat senang sekali diundang untuk menginap di rumah kalian,” Karang Melenu tersenyum.
“Ayo ikut kami,” ajak Babu Jaruma.
Karang Melenu berjalan perlahan mengikuti kedua orang tersebut ke suatu arah menjauhi tepi Sungai Mahakam.
Tidak lama sekitar 30 menit berjalan mereka tiba di suatu rumah radakng. Gerak Lalong dan Babu Jaruma tampak masih gesit di usia yang tidak lagi muda.
“Apai Lalong, siapa gadis ini.” Tanya salah satu sesepuh rumah Radakng tersebut.
“Oh… dia Putri Karang Melenu, seorang putri naga muncul dari kedalaman dan buih Sungai Mahakam… dia untuk sementara ini akan tinggal bersama kita dalam beberapa waktu,” jelas Apai Lalong.
“Oh begitu, baiklah Hulu Dusun… kurasa hal ini merupakan kehormatan bagi rumah Radakng ini dikunjungi oleh seorang putri keturunan naga,” jawab sesepuh tersebut kemudian memberikan hormat sembah kepada Karang Melenu.
Karang Melenu membalas sembah tersebut dengan ramah dan tersenyum kepada semua orang yang hadir saat itu di depan Radakng yang dikepalai oleh Apai Lalong.
Sesampainya dalam radakng, ”Sebenarnya hendak ke mana putri ini sehingga sudi untuk mengunjungi desa ini?” tanya Babu Jaruma.
“Eh… perahuku sedang rusak, aku memerlukan beberapa bagian yang diperlukan di sekitar area ini untuk memperbaikinya,” jawab Karang Melenu.
“Oh… ada pasar perahu tidak jauh dari sini, perlu sekitar 3 hari perjalanan untuk mencapainya dengan berkuda,” jelas Apai Lalong.
“Siapa nama naga raja ayahmu,” tanya Babu Jaruma.
“Era ini… tak tahulah…,” Karang Melenu menjawab sekenanya.
Tetapi yang terdengar oleh Babu Jaruma adalah “Oh… Raja Naga Erau,” celetuknya.
“Eh… I… iyaaa,” Karang Melenu gelagapan, tetapi mengiyakannya juga.
“Semoga suatu hari aku dapat bertemu dengan ayahmu, Naga Erau,” Babu Jaruma berharap sembari tersenyum kepada Karang Melenu.
“Ah… iya, semoga,” Karang Melenu ngeset[ Tersenyum kecil atau nyengir.] merasa bersalah.
“Mari ikut aku, akan kutunjukkan kamar buatmu,” Babu Jaruma mengajak Karang Melenu ke suatu ruangan.
“Ini kamar yang telah kusiapkan untuk calon anakku, aku mendambakan anak perempuan, sepertimu, tetapi bahkan sampai seusia ini, kami belum beruntung dikaruniai seorang anak oleh para petara[ Setara dengan alam semesta atau tuhan],” jelas Babu Jaruma sembari matanya berkaca-kaca.
Karang Melenu mendekati Babu Jaruma dan memegang pundaknya, tanda ikut prihatin.
Babu Jaruma memegang tangan Karang Melenu yang ada di pundaknya sembari tersenyum.
“Kau tidur di kamar ini, kami baru saja gawai padi, jadi kami hari ini banyak berlimpah makanan, sebentar lagi makan siang, kami sedang mempersiapkannya” jelas Babu Jaruma kemudian bergerak ke luar area kamar.
“Baik Ine[ Sebutan ibu di area Dayak Benuaq di Kalimantan kini], terima kasih banyak!” ucap Karang Melenu sembari memberikan sembah.
Babu Jaruma segera meninggalkan Karang Melenu di kamarnya.
Karang Melenu duduk di tepi ranjang kayu dan melihat ke arah luar jendela dari kamarnya.
Kemudian Karang Melenu berjalan ke arah jendela kamar. Dia melihat beberapa anak laki dan perempuan berkeliaran di depan jendelanya sembari tersenyum dan berteriak menyapanya.
Bersambung...
Comments