NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 7
NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 7
“Ah… tidak… terima kasih, aku perlu menikmati perjalanan ini, tidak jauh kita akan bertemu dengan si pembawa teknologi canggih tersebut, sepertinya dengan kecepatan itu kecepatan seseorang yang berjalan kaki dengan cepat,” Karang Melenu menganalisis.
“Kita akan ke area lokasi sekitar 30 menit, kau perlu ngopi?” tanya Karang Melenu kepada Kelikng.
“Ya, kopi akan sangat enak di minum di hari menjelang siang ini,” jawab Kelikng.
“Kita akan minum kopi saat kita melewati warung kecil di area sini, jika ada,” jelas Karang Melenu.
Semakin mendekati area lokasi yang terus bergerak menjauh, mereka melewati sejenis pasar kecil di area pinggir Sungai Niah.
Orang-orang di pasar kecil tersebut tertegun melihat pakaian Karang Melenu yang unik yang didampingi seorang remaja pria yang tampak seperti seorang kesatria.
Karang Melenu berhenti di salah satu kedai dari deretan warung kecil yang ada. Menambatkan kudanya dan berjalan ke depan kedai.
Kemudian berkata,”Dua kopi, satunya tanpa gula, satunya dengan gula.”
“Baik,” jawab pria pemilik kedai sembari tersenyum.
Tak berapa lama pria pemilik kedai menyodorkan kopi panas kepada keduanya.
“Kau tampak dari area jauh, dari manakah?” tanya pria pemilik kedai sembari merapikan dagangannya.
“Dari Sungai Mahakam!” jawab Kelikng mewakili Karang Melenu.
Karang Melenu mengangguk mengiyakan jawaban tersebut.
“Oh… selamat datang di area sini, di sini adalah desa Iban,” jawab pria pemilik kedai yang berusia sekitar 60 tahunan.
“Iban… aku dari desa Benuaq! Dan ini Putri Karang Melenu anak Raja Naga Erau!” jelas Kelikng.
“Anak Raja Naga Erau?” Pria pemilik kedai itu mengulanginya lagi.
“Maksudmu Naga Berauna?” Pria itu memberikan nama yang sesuai dengan apa yang mereka alami.
“Oh… jadi nama aslinya Berauna?” Kelikng menegaskan bahwa dia tidak salah dengar dan mengambil kacang rebus, mengupas dan malahapnya.
”Iya… Berauna… kami juluki juga sebagai Nabau,” jelas pria pemilik kedai.
“Nabau adalah julukan artinya naga air pelindung area sini, dia adalah pahlawan bagi kami,” jelas pria pemilik kedai tersebut.
“Hm… menarik, apakah kalian sering bertemu dengannya?” tanya Kelikng sembari mengambil pisang rebus dan segera melahapnya.
“Sesekali Nabau berkunjung ke area sini untuk memastikan tidak ada penjahat yang membuat onar,” jelas pria pemilik kedai tersebut.
“Dan ini baru pertama kalinya melihat anak gadisnya, jadi selama ini kami salah, kami pikir Nabau belum memiliki anak,” jelas pria pemilik kedai.
“Hekh…,” Karang Melenu tersedak saat meminum kopi pahitnya saat mendengar hal tersebut.
“Tapi… mungkin saja dia sembunyikan, karena dari segi pakaian, kurang lebih jenis pakaiannya mirip seperti yang dikenakan oleh putri ini,” lanjut pria pemilik kedai.
Karang Melenu tersenyum mengangguk kepada pria pemilik kedai tersebut.
“Ayo Kelikng, sebentar lagi kita akan bertemu dengan ayahku,” ajak Karang Melenu.
“Kau belum membayar kopinya?” tanya Kelikng kepada Karang Melenu.
“Tidak… tidak perlu, Nabau adalah pelindung kami, jadi tidak perlu membayar,” jawab pria pemilik kedai.
“Terima kasih,” Karang Melenu memberikan sembah. Diikuti oleh Kelikng.
“Ayo Kelikng, kali ini kita harus bergegas,” ucap Karang Melenu sembari mengarahkan kudanya agar lebih cepat bergerak.
Sesampainya di suatu gua. Mereka berhenti, dan Karang Melenu turun dari kudanya. Kelikng mengikutinya.
“Target di dalam gua, tidak bergerak lagi,” jelas komputer kuantum organik yang ada di kepalanya.
Karang Melenu masuk ke dalam gua, mengikuti arah peta yang ditunjukkan di retina matanya.
Tidak jauh dari sana, terlihat seseorang tengah menggenggam sejenis pistol canggih.
“Jangan mendekat, siapa kau?” tanya orang tersebut.
“Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya!” jelas Kelikng.
“Tidak apa-apa, ini bahasa naga,” jelas Karang Melenu.
“Aku Karang Melenu dari masa depan, perlu bantuanmu, paling tidak memberi jawaban yang aku perlukan,” jelas Karang Melenu kepada orang tersebut.
Bersambung
Comments