NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 8
Video dongeng narasi berikutnya:
NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 8
“Oh… dari masa depan, aku mendeteksi pesawat lintas ruang dan waktu kemarin, berarti itu kau?” orang tersebut menegaskan.
“Iya, dan aku men-scan area sini dan kulihat hanya kau yang memiliki teknologi setara denganku di area terdekat sekitar ini di masa ini!” jelas Karang Melenu.
“Hm… baiklah,” Kata orang tersebut kemudian mendekat dan menyarungkan senjatanya.
“Namaku Baruna!” jawabnya terlihat wajahnya berbentuk mirip seperti seekor iguana, reptilia pemakan tumbuhan.
Baruna berpakaian mirip seperti Karang Melenu, baju berwarna abu-abu, celana panjang, dan sepatu boot semuanya berwarna abu-abu.
“Raja Naga Erau!” gumam Keling terkesima.
“Aku Karang Melenu, kau dari planet apa dan dari konstelasi mana tepatnya?” tanya Karang Melenu.
“Pertanyaan yang tidak tepat, aku berasal dari planet ini, planet Bumi ini sendiri,” jelas Baruna.
“Dari Bumi ini… tetapi dari frekuensi lainnya,” jelas Baruna.
“Hm… tidak kukira, ternyata dari frekuensi lain di Bumi ini, apakah kau juga dari masa depan?” tanya Karang Melenu.
“Tidak, dari masa kini, di frekuensi lainnya, di frekuensi kami… Bumi sudah jauh lebih canggih teknologinya, dan aku adalah seorang teknisi sekaligus peneliti yang ditugaskan untuk melintas frekuensi guna meneliti frekuensi yang ini…” jelasnya.
“Setelah aku melihatmu sekarang… dari masa depan, aku sangat bahagia, karena manusia juga mampu mencapai teknologi yang kami capai, aku pikir kalian akan musnah karena perang antara kalian sendiri, perang antarsesama,” jelas Baruna lega.
“Karena banyak manusia memiliki sifat kejam dan ingin menguasai yang lainnya dan serakah…,” jelas Baruna.
“Kau benar… di masa depan, kami hampir memusnahkan diri sendiri karena ketamakan untuk menguasai dengan cara sentralisasi, memperbudak sesama kami sendiri…”
“... para pemimpin di masa sulit itu… mereka membutakan diri bahwa kita semua tidak sama…. tetapi masa tersebut berhasil kami lewati, dan kini, kami juga banyak yang menjadi peneliti sepertimu…” jelas Karang Melenu.
“Jadi apa yang membuatmu terdampar di masa kini?” tanya Baruna.
“Pesawat kuantum organik milikku mengalami kerusakan, saat aku kendarai, aku tidak ada maksud ke masa ini… tetapi karena kerusakan tersebut… kini aku ada di sini,” jelas Karang Melenu.
“Kalau kau mengerti teknik kuantum organik lintas ruang dan waktu, bisakah kau melihat kerusakannya dan memperbaikinya?” tanya Karang Melenu.
“Akan aku usahakan…” jawab Baruna.
Dengan segera Karang Melenu bergerak ke luar Gua Niah dan mengambil pesawat lintas ruang dan waktu dari sakunya.
Diletakkannya pesawat berbentuk seperti bulat telur tersebut di tanah dan menyentuh bagian tertentu. Kemudian pesawat tersebut membesar.
“Wuaaah!” Keling tertegun melihat itu semua.
“Oh… iya, kenalkan ini Keling,” jelas Karang Melenu kepada Baruna.
“Hai… Keling, senang berkenalan denganmu,” Sapa Baruna dalam bahasa yang dimengerti oleh Keling di masa itu, sembari bergerak masuk ke dalam pesawat milik Karang Melenu.
Karang Melenu mengikuti Baruna, dan di belakangnya Keling yang terkagum-kagum.
“Aku bersama Raja Naga Erau dan Putrinya,” Keling tampak kegirangan lalu terperangah.
“Dari luar tampak kecil, kenapa setelah masuk, ruangannya lebih besar, bahkan lebih luas dari rumah radakng Apai Lalong… dan ruangan ini penuh dengan kristal…” kata Keling tidak percaya.
Baruna dan Karang Melenu tersenyum melihat reaksi Keling.
Baruna mendekati area kokpit dan melihat log yang terjadi,“Dari catatan pesawat ini… kerusakan terjadi saat petir menyambar dan membuatnya kelebihan beban… coba aku cek bagian dari stabilisasi energi, energi stabilisator.”
“Tunjukkan di peta di mana letak energi stabilisatornya?” perintah Baruna kepada pesawat tersebut.
“Berikut peta letak energi stabilisator,” jawab komputer pesawat kuantum organik tersebut menunjukkan peta secara hologram.
“Wuoow…,” Keling terkesima lagi.
“Analisis tersebut benar… stabilisator energinya terbakar!” jelas Baruna, sembari membuka kap di mana area energi stabilisator berada berdasarkan peta hologram tersebut.
“Apakah kau memiliki cadang pengganti atau paling tidak membuat penggantinya dengan teknologi yang mirip?” tanya Karang Melenu.
“Maaf, aku tidak membawa perangkat atau suku cadang seperti itu, karena teknologi yang aku bawa hanya ke gerbang antar frekuensi, tidak untuk menjelajah angkasa atau teleport di dalam frekuensi ini…” jelas Baruna.
Bersambung
Comments