NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 9
Video dongeng narasi berikutnya:
NAGA ERAU DAN PUTRI KARANG MELENU bagian 9
Cerita sebelumnya klik di sini:
https://msgumelar.blogspot.com/2026/02/naga-erau-dan-putri-karang-melenu_8.html
“... dan aku juga tidak mau kembali ke frekuensiku di Bumiku sendiri untuk mengambil suku cadang yang mirip atau sejenisnya… karena itu tidak ada hubungannya dengan tugasku di sini, akan menjadi masalah…” tambahnya.
“Aku mengerti…,” ucap Karang Melenu tampak kecewa.
“Tapi… kita dapat mencari suku cadang sejenis di area Barat… di area Sungai Shindu…,” jelas Baruna.
“Ah… tidak kukira aku akan melewatkan waktu di sini lebih lama,” keluh Karang Melenu.
“Aku siap untuk menemanimu,” hibur Baruna.
“Sungguh? Terima kasih, itu membuatku lega!” jawab Karang Melenu tampak gembira.
“Jadi kita akan mencari suku cadang di area Sungai Shindu…” saran Baruna.
“Sebentar lagi sudah menjelang sore, kita belum punya persediaan makanan apa pun,” Kelikng menyela.
“Kau benar,” Karang Melenu melihat ke arah Kelikng.
“Jangan khawatir, aku punya banyak makanan berupa bunga, buah, sayur, dan ubi-ubian,” jelas Baruna.
“Ah… kau vegan?” tanya Karang Melenu.
“Bukan vegan, nenek moyangku adalah iguana, reptilia herbivora, kami juga demikian,” jelas Baruna.
“Ah… iya, aku lupa, iguana bukanlah karnivora, nenek moyang kami percabangan dari kera besar, jadi kami omnivora,” Karang Melenu menambahkan.
“Kau mau berburu rusa, kambing hutan, ayam hutan, atau kelinci?” Karang Melenu melihat ke arah Kelikng.
“Tentu saja, area sini masih hutan lebat, jadi akan sangat mudah mendapatkan satwa buruan!” jelas Kelikng.
“Eh… Baruna, sepertinya kami harus berburu terlebih dahulu,” ucap Karang Melenu.
“Kau tidak punya alat untuk memanggil rusa atau satwa buruan?” tanya Baruna.
“Ya… ya… aku punya,” jawab Karang Melenu.
“Ayo Kelikng kita ke area dekat hutan,” ajak Karang Melenu, kemudian Karang Melenu bergerak ke suatu arah. Kelikng mengikutinya.
Di dekat tepi hutan yang jaraknya tidak jauh sekitar 10 menit berjalan dari posisi Gua Niah.
Karang Melenu menekan sesuatu di tangannya dan suatu suara seperti rusa menggema di area tersebut keluar dari area tangannya seperti speaker,”Kita tunggu di sini, siapkan sumpitmu!” tambahnya sembari melihat ke arah Kelikng.
Kelikng mengangguk walaupun tidak mengerti, kenapa harus menunggu dan tidak langsung berburu saja ke dalam hutan. Tapi pikiran Kelikng tetap ikut permintaan Karang Melenu sebab banyak hal aneh terjadi sejak berpetualang dengannya, Kelikng percaya kepada putri ini.
Benar saja. Tidak berapa lama sekitar 5 menit, dua ekor rusa besar muncul di area tersebut.
Kelikng melihat ke arah Karang Melenu yang menunjuk dan memberi tanda bahwa rusa paling besar untuk disumpit.
Kelikng mengangguk dan menyiapkan sumpitnya.
PUH!
Dengan sekuat tenaga sumpitnya diembusnya dan tepat mengenai rusa terbesar.
Rusa tersebut terkejut dan berlari, tetapi racun anak sumpit demikian kuat, tidak kurang dari 10 meter, rusa tersebut jatuh menggelepar dan tidak dapat berdiri lagi.
“Yeaaay!” Teriak Karang Melenu.
*
Di depan api unggun. Di atasnya seeokor rusa tengah dipanggang dan telah matang.
“Kau tidak mau mencicipi?” tanya Karang Melenu kepada Baruna.
“Kalau aku omnifora, tentu aku mau,” jawab Baruna sembari nyengir kemudian melahap sayur dan buah persediaan makanannya.
“Ha… ha… ha… tidak kukira dapat melihat senyuman spesies cerdas iguana, ternyata unyu[ Cute.] juga,” gelak tawa Karang Melenu.
“He he he,” Baruna ikut tertawa kecut.
Kelikng ikut tertawa walaupun tidak mengerti pembicaraan mereka berdua, dia berpikir mereka berbicara dalam bahasa petara.
Melihat Kelikng ikut tertawa malah membuat Karang Melenu dan Baruna semakin tergelak, dan hal ini membuat Kelikng juga semakin tergelak, mereka tertawa sembari memegang perut masing-masing agar tidak sakit karena tertawa dengan bebas dan lepas.
Bersambung
Comments